Setelah menerima diagnosis diabetes tipe 1, kebanyakan dokter akan merekomendasikan Anda untuk tes yang berdiri sendiri. Apa itu tes autoantibodi? Apa yang harus saya ketahui?
Fakta penting tentang tes autoantibodi

  1. Kapan saya harus melakukan tes autoantibodi?

Tes ini harus dilakukan pada diagnosis diabetes pertama. Tes autoantibodi dilakukan untuk menentukan apakah diabetes terkait dengan penyakit autoimun atau tidak.

Selanjutnya, tes ini dirancang untuk menguji apakah Anda memiliki diabetes yang dapat diobati dengan diet atau obat-obatan, sulit untuk mempertahankan kadar gula darah normal atau bahkan mendiagnosis perkembangan diabetes tipe 1, bukan tipe 2.

Ada 4 tes autoantibodi paling umum yang terkait dengan diabetes, yaitu:

Autoantibodi sitoplasma sel pulau (ICA)
Autoantibodi decarboxylase dari asam glutamat (GADA)
Autoantibodi yang terkait dengan insulinoma-2 (IA-2A)
Insulin autoantibodies (IAA)

Sekitar 5 persen dari semua kasus diabetes tipe 1 yang disebabkan oleh masalah autoimun didiagnosis pada subjek di bawah usia 20 tahun. Gejala diabetes seperti sering buang air kecil, haus parah, penurunan berat badan yang drastis dan penyembuhan luka yang buruk muncul ketika sekitar 80 hingga 90 persen sel diabetes tipe 1 telah dihancurkan dan tidak lagi mampu memproduksi insulin.

Tubuh membutuhkan insulin setiap hari, sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk menghasilkan energi. Tanpa cukup insulin, sel beta akan kelaparan dan menghasilkan gula darah tinggi (hiperglikemia). Hiperglikemia akut dapat menyebabkan krisis medis pada diabetes. Sedangkan hiperglikemia kronis dapat merusak pembuluh darah dan organ seperti ginjal.

Tes Autoantibodi

  1. Bagaimana cara mendapatkan sampel darah untuk tes?

Tes autoantibodi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari tubuh. Sampel darah diperoleh dengan memasukkan jarum ke dalam vena di lengan.

  1. Persiapan apa yang harus saya lakukan sebelum ujian?

Tidak diperlukan persiapan seperti puasa atau minum obat khusus sebelum menjalani tes ini.

  1. Bisakah tes ini mendiagnosis diabetes?

Tes autoantibodi bukan untuk memeriksa apakah Anda menderita diabetes atau tidak. Tes ini dilakukan hanya untuk mendiagnosis orang dengan diabetes tipe 1 atau tipe lain melalui tes glukosa darah atau A1c. Tes autoantibodi juga digunakan untuk membedakan apakah Anda menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2.

  1. Apakah autoantibodi ICA, GADA, dan IA-2A menghancurkan sel beta?

Tes ICA, GADA, dan IA-2A adalah tes yang berkaitan dengan kerusakan sel beta dan menggambarkan proses autoimun yang terjadi dalam tubuh penderita diabetes. Namun, tes ini bukan tes yang mencurigai penyebab kerusakan sel beta.

  1. Apakah diagnosis dini kerusakan seluler dini mencegah diabetes?

Belum saat ini. Deteksi awal ini memungkinkan Anda untuk mengobati diabetes secepat mungkin ketika gejala seperti sering buang air kecil, penurunan berat badan dan gula darah tinggi (hiperglikemia) terjadi.

Tes autoantibodi ini juga dapat membantu mengontrol glukosa darah diabetes dan meminimalkan komplikasi. Komplikasi diabetes yang paling berbahaya termasuk kerusakan ginjal dan mata, stroke, amputasi kaki.

  1. Adakah hal lain yang harus diketahui?

Tes pada autoantibodi GADA dan IA-2A lebih umum dan banyak tersedia di pusat-pusat kesehatan seperti rumah sakit dan laboratorium.

Kelompok autoantibody juga dapat dilihat pada orang dengan gangguan endokrin autoimun lainnya, seperti tiroiditis Hashimoto atau penyakit Addison autoimun.
Tes autoantibodi untuk penelitian

Dalam aturan penelitian, tes autoantibodi ini dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan diabetes tipe 1 pada anggota keluarga yang terkena. Secara umum, semakin besar jumlah kelompok autoantibodi yang dimiliki oleh orang yang tidak memiliki diabetes dalam darah mereka, semakin besar risiko terkena diabetes tipe 1.

Jika seorang penderita diabetes yang memiliki satu atau lebih kelompok autoantibodi memiliki respons yang rendah terhadap insulin, maka ia lebih berisiko terkena diabetes tipe 1. Terutama di keluarga penderita diabetes. Karena saat ini belum ada pengobatan yang efektif untuk mencegah diabetes

Baca Juga :